Asya tidak pernah menyukai hari Senin, terutama Senin pertama di sekolah barunya. Pagi itu ia berdiri cukup lama di depan gerbang, memperhatikan siswa-siswi yang berjalan masuk dengan teman-temannya masing-masing. Ada yang tertawa, ada yang terburu-buru karena hampir terlambat, dan ada yang sibuk membicarakan tugas. Semuanya terlihat sudah memiliki tempat, sementara Asya bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Ia hanya menggenggam tali tasnya dan berharap hari itu segera selesai. Sejak pindah sekolah, Asya memang lebih sering memilih diam. Bukan karena ia tidak ingin berteman, tetapi ia selalu merasa takut mengatakan sesuatu yang salah dan akhirnya menjadi bahan tertawaan.
Ketika bel hampir berbunyi, Asya akhirnya masuk ke kelas. Ia memilih bangku di dekat jendela, berharap posisi itu cukup jauh dari perhatian orang lain. Dari sana, ia bisa melihat halaman sekolah tanpa harus banyak berbicara dengan siapa pun. Ia sedang membuka buku ketika seorang anak laki-laki datang dan berhenti di samping bangku kosong di sebelahnya.
“Ini kosong, kan?” tanya anak laki-laki itu sambil menunjuk kursi. Asya menoleh lalu mengangguk. “Iya.”
Anak itu langsung menarik kursinya. “Kalau aku duduk di sini, nggak apa-apa?” Asya kembali mengangguk. “Nggak apa-apa.”
“Nama kamu siapa?” “Asya.”
“Aku Arga.”
Sesederhana itu perkenalan mereka dimulai.
Arga adalah tipe orang yang mudah berbicara dengan siapa saja. Ia tidak terlalu peduli apakah Asya menjawab panjang atau hanya mengangguk. Saat Asya hanya menjawab singkat, Arga tidak memaksanya untuk bercerita. Saat Asya diam, Arga juga bisa sibuk sendiri. Justru karena itu, Asya perlahan merasa nyaman.
Pada jam istirahat, Arga menunjuk ke arah kantin. “Kamu mau ke kantin?” Asya menggeleng. “Nanti aja.”
“Kenapa?”
“Ramai.”
Arga tertawa kecil. “Aku juga sebenarnya nggak suka kalau terlalu ramai. Tapi kalau nunggu sepi, bisa-bisa kebagian gorengan terakhir.”
Asya tanpa sadar tersenyum. “Memangnya gorengan penting?” “Penting. Itu bagian dari perjuangan hidup.”
Asya tertawa pelan. Untuk pertama kalinya sejak pindah sekolah, ia merasa bisa tertawa tanpa harus memikirkan apakah orang lain akan menertawakannya.
Hari-hari berikutnya berjalan perlahan. Asya dan Arga mulai sering mengerjakan tugas bersama, makan di kantin, dan sesekali pulang bersamaan. Tidak ada sesuatu yang istimewa dari kegiatan mereka, tetapi justru hal-hal sederhana itulah yang membuat Asya mulai merasa bahwa sekolah barunya tidak seburuk yang ia bayangkan.
Meski begitu, rasa minder dalam diri Asya tidak langsung hilang. Ia masih sering memilih diam ketika guru bertanya di kelas. Bahkan ketika mengetahui jawabannya, ia lebih memilih menundukkan kepala daripada mengangkat tangan. Ia selalu membayangkan kemungkinan salah sebelum mencoba.
Suatu pagi, guru Bahasa Indonesia meminta beberapa siswa menyampaikan pendapat tentang sebuah bacaan. Asya sebenarnya memiliki jawaban. Ia bahkan sudah menyusunnya di dalam kepala. Namun, ketika guru mulai melihat ke seluruh kelas, Asya langsung menunduk.
“Tidak ada yang mau menjawab?” tanya gurunya. Arga melirik Asya. “Kamu tahu jawabannya, kan?” Asya menggeleng cepat. “Nggak yakin.”
“Kalau nggak dicoba, kita nggak akan tahu benar atau salah.” Asya tetap diam.
Guru akhirnya menunjuk siswa lain. Setelah pelajaran selesai, Arga berkata, “Tadi kamu sebenarnya tahu jawabannya.”
“Kok kamu tahu?” “Kelihatan dari muka kamu.”
Asya tertawa kecil. “Aku takut salah.” “Kalau salah, ya diperbaiki.” “Gampang ngomongnya.”
Arga mengangguk. “Iya, memang lebih gampang ngomong daripada melakukan. Tapi aku juga pernah takut salah.”
Asya menatapnya. “Serius?”
“Serius. Bedanya, aku capek kalau terus-terusan takut.” Kalimat sederhana itu terus teringat oleh Asya.
Beberapa minggu kemudian, hasil ulangan matematika dibagikan. Nilai Asya hanya
52. Begitu melihat angka itu, dadanya terasa sesak. Ia langsung menyelipkan kertas ulangannya ke dalam buku sebelum ada yang melihat. Selama ini angka memang menjadi sesuatu yang membuatnya tidak percaya diri. Ia merasa teman-teman lain jauh lebih pintar darinya dan tidak pernah benar-benar yakin bahwa dirinya mampu mengejar mereka.
Namun, Arga sempat melihatnya. “Dapat berapa?” tanyanya.
Asya menutup bukunya. “Nggak usah lihat.” “Aku cuma nanya.”
“Lima puluh dua.”
Arga tidak tertawa. Ia juga tidak mengatakan bahwa nilainya buruk. Ia hanya mengambil buku matematikanya sendiri.
“Besok belajar bareng, yuk.”
Asya mengerutkan kening. “Buat apa?”
“Biar lima puluh duanya nggak jadi teman kamu selamanya.” Asya tertawa kecil. “Kalau tetap nggak bisa?”
“Ya belajar lagi.”
“Kalau tetap nggak bisa juga?” “Belajar lagi.”
Jawaban Arga sederhana, tetapi entah mengapa Asya merasa ada sesuatu yang berbeda dari cara Arga melihat kegagalan. Bagi Arga, gagal bukan tanda bahwa seseorang harus berhenti. Gagal hanya berarti masih ada yang harus dipelajari.
Sepulang sekolah, mereka mulai belajar bersama. Mereka tidak selalu serius. Kadang mereka hanya mengerjakan beberapa soal, kemudian beristirahat sambil membicarakan hal-hal lain. Arga membantu Asya memahami soal dengan cara yang lebih sederhana. Jika Asya salah, Arga tidak langsung menyalahkan.
“Coba lihat bagian ini,” kata Arga sambil menunjuk buku. “Menurut kamu, kenapa jawabannya bisa begini?”
Asya memperhatikan soal itu. “Karena rumusnya yang ini?” “Nah. Coba ulang dari awal.”
Beberapa kali Asya mengeluh.
“Aku kayaknya memang nggak cocok sama matematika.” “Jangan bilang begitu.”
“Memangnya kenapa?”
“Kalau kamu terus bilang kamu nggak bisa, lama-lama kamu percaya sendiri.” Asya terdiam.
Nilainya tidak langsung berubah menjadi bagus. Dari 52, ia mendapat 64. Setelah itu 71, kemudian 83. Bagi orang lain mungkin angka itu bukan sesuatu yang luar biasa, tetapi bagi Asya, nilai tersebut seperti bukti kecil bahwa dirinya ternyata bisa berubah jika mau berusaha. Ia mulai berani mengangkat tangan ketika mengetahui jawaban. Ia mulai berani bertanya ketika tidak mengerti. Ia bahkan mulai bisa menerima ketika jawabannya ternyata salah.
Suatu hari setelah pelajaran, Asya berkata, “Ternyata salah itu nggak semenakutkan yang aku kira.”
Arga tersenyum. “Karena sekarang kamu sudah tahu cara memperbaikinya.”
Asya mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kemampuan seseorang tidak selalu terlihat dari hasil pertama. Ada orang yang memang bisa langsung berhasil, tetapi ada juga yang harus jatuh berkali-kali sebelum menemukan caranya sendiri. Asya mulai belajar bahwa tidak masalah jika langkahnya lebih lambat selama ia tidak berhenti.
Waktu berjalan cepat. Tanpa terasa, mereka memasuki kelas dua belas. Asya sudah jauh berbeda dari dirinya yang dulu. Ia masih pemalu, masih kadang merasa minder, dan masih bisa gugup ketika harus berbicara di depan banyak orang. Namun, sekarang ia tidak lagi langsung mundur ketika rasa takut datang.
Suatu pagi, sekolah mengumumkan sebuah lomba karya tulis antarsekolah. Guru meminta siswa yang berminat untuk membentuk tim dan mengumpulkan karya mereka dalam waktu beberapa minggu.
Arga langsung menoleh kepada Asya. “Ikut, yuk.” Asya hampir tertawa. “Aku?”
“Iya, kamu.” “Kenapa aku?”
“Karena kamu suka menulis.” “Suka bukan berarti bisa.” “Berarti kita belajar supaya bisa.”
Asya menggeleng. “Kamu terlalu percaya diri.”
Arga tersenyum. “Kalau kamu takut, kita takut bareng.” Asya akhirnya setuju.
Mereka mulai mengerjakan karya tersebut sepulang sekolah. Mereka mencari ide, membaca berbagai sumber, membuat kerangka tulisan, dan memperbaiki bagian-bagian yang terasa berantakan. Ada hari ketika mereka bisa menyelesaikan banyak hal, tetapi ada juga hari ketika satu halaman saja tidak selesai.
“Kayaknya bagian ini jelek,” kata Asya suatu sore. “Bukan jelek. Belum selesai.”
“Bedanya apa?”
“Kalau jelek, berarti selesai dan nggak bisa diperbaiki. Kalau belum selesai, masih bisa kita ubah.”
Asya menatap layar laptop beberapa detik, kemudian kembali mengetik.
Semakin dekat dengan hari perlombaan, rasa takut Asya justru semakin besar. Ia mulai membandingkan karya mereka dengan karya peserta lain. Ia melihat contoh tulisan tahun sebelumnya dan merasa semuanya terlalu bagus untuk disaingi.
Suatu sore, ketika mereka sedang memperbaiki karya di kelas, Asya menutup laptop. “Ga, mungkin lebih baik kita berhenti.”
Arga menatapnya. “Kenapa?” “Kita nggak mungkin menang.” “Kita belum tahu.”
“Aku sudah lihat karya peserta lain. Mereka jauh lebih bagus.” Arga diam sebentar. “Terus?”
“Terus buat apa kita lanjut?”
“Karena kita sudah sampai sejauh ini.” Asya menggeleng. “Aku takut kalah.” “Aku tahu.”
“Aku takut mempermalukan sekolah.”
“Aku juga tahu.”
“Aku takut nanti semua orang lihat kalau aku sebenarnya nggak cukup baik.” Arga tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Asya beberapa saat.
“Asya, selama ini kamu sering memutuskan untuk menyerah sebelum benar-benar mencoba.”
Kalimat itu membuat Asya tersinggung. “Jadi menurut kamu aku pengecut?” “Aku nggak bilang begitu.”
“Tapi maksudmu begitu.”
Arga menggeleng. “Aku cuma bilang kamu terlalu sering memberi kesempatan kepada rasa takut untuk mengambil keputusan.”
Asya tidak menjawab. Ia memasukkan buku ke dalam tas lalu pulang lebih dulu.
Malam itu, kata-kata Arga terus terngiang di kepalanya. Asya duduk di depan meja belajar dan melihat naskah lomba yang mereka kerjakan. Ia membuka halaman pertama, lalu membaca semuanya dari awal.
Ia mulai menyadari sesuatu. Selama ini ia selalu menyebut dirinya realistis, padahal sebenarnya ia hanya takut gagal. Ia takut mendapat nilai jelek, takut salah menjawab pertanyaan, takut dianggap tidak pintar, dan takut kalah dalam perlombaan. Anehnya, semua ketakutan itu membuatnya lebih sering berhenti daripada berusaha.
Asya mengambil selembar kertas dan menuliskan satu kalimat: “Kalau aku gagal, apa yang benar-benar akan terjadi?”
Ia berpikir lama. Tidak ada jawaban yang menakutkan seperti yang selama ini ia bayangkan. Ia mungkin kecewa. Ia mungkin malu. Ia mungkin harus mencoba lagi. Tetapi hidupnya tidak akan berhenti hanya karena satu kegagalan.
Keesokan harinya, Asya datang lebih pagi ke sekolah. Arga sudah duduk di kelas. “Kita lanjut,” kata Asya.
Arga menoleh. “Yakin?” “Yakin.”
“Kenapa berubah pikiran?”
Asya tersenyum kecil. “Aku belum tentu menang. Tapi aku juga belum tentu kalah sebelum mencoba.”
Arga mengangguk. “Nah, itu baru Asya.”
Sejak hari itu, mereka kembali mengerjakan karya mereka dengan lebih serius. Asya mulai berani memberikan pendapat. Jika ada bagian yang menurutnya kurang, ia mengatakannya. Jika ada kesalahan, ia tidak lagi takut untuk mengakuinya. Ia bahkan mulai berani berbicara dengan anggota tim lain dan meminta masukan.
Hari perlombaan akhirnya tiba.
Asya tetap gugup. Tangannya dingin dan pikirannya penuh dengan kemungkinan buruk. Di ruang tunggu, ia terus membaca catatan yang sudah berkali-kali ia baca.
“Kalau aku lupa semuanya gimana?” tanyanya.
Arga menjawab, “Kalau lupa, tarik napas dan lanjutkan dengan yang kamu ingat.” “Kalau salah jawab?”
“Perbaiki.”
“Kalau mereka nggak suka?”
“Kita nggak bisa mengatur pendapat semua orang.” Asya terdiam. Ia kemudian tersenyum.
“Kamu punya jawaban untuk semuanya, ya?”
“Nggak. Aku cuma nggak mau kamu kembali menyerah.”
Ketika namanya dipanggil untuk mempresentasikan karya, Asya sempat ingin mundur. Namun, ia teringat semua sore yang mereka habiskan untuk mengerjakan tulisan itu. Ia juga teringat bagaimana nilainya pernah hanya 52 dan bagaimana angka itu perlahan berubah karena ia memilih untuk mencoba lagi.
Asya berdiri di depan ruangan dan mulai mempresentasikan karya mereka. Presentasinya jauh dari sempurna. Ada bagian yang terlupa, ada jawaban yang tidak langsung ia temukan, dan beberapa kali ia merasa ingin segera kembali ke tempat duduk. Namun, setiap kali rasa takut datang, ia menarik napas dan melanjutkan.
Untuk pertama kalinya, Asya tidak berusaha menjadi sempurna. Ia hanya berusaha menyelesaikan apa yang sudah dimulainya.
Mereka tidak memenangkan lomba itu. Nama mereka tidak disebut sebagai juara pertama, kedua, ataupun ketiga. Asya tentu merasa kecewa. Setelah semua usaha yang mereka lakukan, ia berharap setidaknya ada sesuatu yang bisa dibawa pulang selain rasa lelah.
Di luar ruangan, Asya berjalan dalam diam. “Kecewa?” tanya Arga.
“Banget.”
Arga mengangguk. “Aku juga.”
Asya menarik napas. “Tapi anehnya, aku nggak pengin berhenti.” Arga tersenyum. “Berarti ada yang berubah.”
Asya ikut tersenyum. “Mungkin.”
Ia mulai menyadari bahwa kegagalan kali ini berbeda. Dulu, kegagalan kecil saja sudah cukup membuatnya merasa tidak mampu. Sekarang ia memang kecewa, tetapi ia tidak merasa ingin menghilang atau menyerah. Ia justru ingin tahu apa yang kurang dari karya mereka dan apa yang bisa diperbaiki jika suatu hari mereka mencoba lagi.
Beberapa bulan kemudian, hari kelulusan tiba. Halaman sekolah dipenuhi siswa yang berfoto dan saling mengucapkan selamat. Asya berdiri agak jauh dari keramaian sambil melihat gedung sekolah yang selama tiga tahun terakhir menjadi bagian dari hidupnya.
Ia teringat hari pertamanya di sekolah itu, ketika ia hanya ingin menjadi bayangan dan berharap tidak ada seorang pun yang memperhatikannya. Ia juga teringat nilai 52, sore-sore panjang bersama Arga, rasa takut sebelum perlombaan, dan perasaan kecewa ketika mereka tidak menang.
Semua kejadian itu ternyata bukan kumpulan kegagalan seperti yang dulu ia pikirkan. Semuanya adalah bagian dari perjalanan yang membuatnya lebih mengenal dirinya sendiri.
Arga datang menghampirinya. “Kenapa bengong?”
“Lagi ingat dulu.” “Dulu yang mana?”
“Hari pertama aku masuk sekolah.”
Arga tertawa. “Waktu kamu bahkan susah diajak ngomong?” Asya ikut tertawa. “Aku memang separah itu?”
“Parah.”
“Terima kasih sudah mengingatkannya.” “Sama-sama.”
Mereka berdiri berdampingan sambil melihat langit.
Asya akhirnya mengerti bahwa menjadi hebat bukan berarti selalu mendapatkan nilai tertinggi atau memenangkan setiap perlombaan. Menjadi kuat juga bukan berarti tidak pernah merasa takut. Terkadang keberanian hanya sesederhana tetap maju ketika kita sebenarnya ingin mundur.
Tidak semua usaha akan menghasilkan kemenangan, tetapi setiap usaha pasti meninggalkan sesuatu: pengalaman, pelajaran, dan keberanian untuk mencoba sekali lagi.
Sebelum meninggalkan sekolah, Asya menatap langit yang terbentang luas di atas halaman. Dulu ia sering merasa bahwa semua orang berjalan lebih jauh darinya. Sekarang ia tahu bahwa setiap orang memang memiliki waktunya sendiri. Ada yang sampai lebih dulu, ada yang harus berhenti sebentar, dan ada yang harus mengambil jalan yang lebih panjang. Yang penting bukan seberapa cepat seseorang sampai, tetapi apakah ia tetap berjalan ketika jalannya terasa sulit.
Asya kemudian melangkah meninggalkan halaman sekolah bersama Arga. Ia belum tahu akan menjadi apa dirinya setelah hari itu. Ia juga belum tahu apakah semua rencananya akan berhasil. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu memiliki semua jawaban.
Ia hanya tahu satu hal: ketika nanti gagal, ia tidak ingin kembali menjadi seseorang yang takut mencoba.
Sebab selama masih ada kesempatan untuk melangkah, selalu ada alasan untuk percaya bahwa hari esok bisa menjadi sedikit lebih baik.
Asya menengadah sekali lagi. Langit yang dilihatnya hari itu mungkin sama dengan langit pada hari pertama ia datang ke sekolah. Tidak ada yang berubah dari langit itu. Yang berubah adalah dirinya.
Dan di bawah langit yang sama, Asya akhirnya belajar bahwa terkadang kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan orang lain, melainkan ketika kita berhasil mengalahkan rasa takut yang selama ini membuat kita berhenti.
